Haha... Itu quote dari temen gw.
Nyambung dari jurnal gw sebelumnya, gw masih tetep ngga ngerti kenapa si editor E*** satu itu tetep aja kekeuh dengan pendapatnya sekate2 udah diberondong suara2 protes dari banyak orang.
Pemikiran sempit ini yg ngga pernah bisa gw mengerti.
Ini reply terakhir yang dia katakan:
"Manual itu cuma sbg syarat saja. Dan maksud manual itu cuma untuk contoh ilustrasi. Untuk dalamnya aku membebaskan.
Aku tahu komikus lokal lebih ke digital, tapi apa salahnya kalo juga bisa mewarnai manual meski cuma bisa sekian persen. Yang kulihat di sini bukan hasilnya, tapi usahanya mau melewati tembok yang menghadang. Karena, untuk ke depanny tekanan itu pasti ada.
Jika tembok semudah ini gak bisa dilewati, aku bisa melihat batas dari kemampuan komikus lokal. Banyak komikus lokal yang cepat puas dengan hasil karyanya (baik itu dlm hal gbr maupun cerita). Itu yg bikin aku sedih.
Maaf ya kalau kata2ku ada menyinggung... Karena inilah dunia... Di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi lagi... ^_^"Ini respon gw:
"Tembok yang menghadang itu banyak bentuknya. Masing2 orang punya kok. Masalahnya tembok untuk masing2 orang itu berbeda jenis. Kalo menurut gw, tembok yang kamu pasang ini adalah tembokmu sendiri, yang kamu paksakan pada orang lain untuk melewatinya.
Kamu menyebutkan tekanan dalam membuat suatu ilustrasi. Seberapa 'kenal' kamu dengan 'tekanan' ini? Gw bekerja dalam bidang ini sudah nyaris 4 tahun, Julian mungkin nyaris 10 tahun berada di bidang ini, yang lain pun pastinya sudah punya pengalaman yang tidak sebentar. Kalau gw, dalam 4 tahun itu gw belajar banyak. Ilustrasi yg gw buat ratusan, gw juga udah pernah nerbitin sebuah komik. Menurutmu, kami yang berprofesi di bidang ini tidak tahu apa itu 'tekanan'? Jangan ngeremehin, tekanan itu bukan ada di hadapan kami, tapi kami selalu berada didalamnya.
Apa kamu ngga sadar dengan banyaknya suara2 protes dari orang2, membuktikan bahwa teorimu itu tidak benar adanya dan sama sekali tidak berdasar? Semua orang berkata, tidak masalah pengerjaan digital maupun manual, yang penting hasil akhirnya. Kenapa kamu masih kekeuh? Sama seperti tembok, langit tujuan masing2 orang pun berbeda2. Yang kamu lihat hanyalah langit2 rendah sebuah kotak tempatmu terkurung. Sementara langit yang kami lihat jauh lebih tinggi dari itu. Jauh lebih luas.
Para digital artist bukanlah para pemalas bodoh yang tidak mau berkembang. Digital artist dan manual artist hanya dibedakan oleh media saja, seperti kata Julian, itu hanya sebuah alat perpanjangan tangan. Yang membuat gambar kan sebenarnya tangan artistnya sendiri, bukan alatnya. Alat hanya benda mati yang tidak akan berguna sama sekali tanpa penggunanya, tidak itu cat air, copic, crayon, pinsil warna, bahkan komputer ataupun pen tablet.
Sejak kapan kamu mulai menggambar? Seberapa jauh kamu berkembang? Berapa karya dalam taraf profesional yang sudah kamu ciptakan untuk mengukuhkan teorimu itu? Yang gw dengar dari teman2mu, gambarmu tidak menunjukkan perkembangan yang berarti sejak dulu. Alasannya gw yakin cuma satu: seperti katak dalam tempurung, pola pikirmu yang sempit yang membuatnya terhambat.
Coba renungkan baik2 apa yg gw katakan ini."Sekedar informasi, kedua sampel ini:
Ditinta 100% digital.Tampak beda dengan manual? 66% dengan jumlah 284 responden poling gw percaya bahwa sampel itu ditinta manual dan hanya diedit sedikit dengan Photoshop, sedang 34% dengan 149 responden yang menjawab benar bahwa sampel itu ditinta secara digital.
Apakah jelek? Dengan percaya diri gw katakan: jelas tidak! Hal ini didukung oleh hasil poling gw juga yang membuktikan;
32% (102 responden) memberi nilai 9.
19% (60 responden) memberi nilai 8.
18% (58 responden) memberi nilai 10.
17% (55 responden) memberi nilai 7.
8% (26 responden) memberi nilai 6.
Sedang sisa hasil poling yg bawah ini kayaknya cuma orang yg sentimen ma gw doang aja...

4% (12 responden) memberi nilai 1.
1% (3 responden) memberi nilai 5.
Gw percaya bahwa standar karya gw cukup berkualitas. Dan jika cuma karena masalah digital-manual yang menghambat gw, or better say,
kita untuk berkarya. Bagaimana kalau sama2 mengacungkan jari tengah pada orang yang berpikiran sempit seperti itu?
Kalo menurut gw, aneh kalau mengatakan bahwa screen tone yang di-scan hasilnya lebih baik daripada program toning di komputer. Seperti yg dikukuhkan E*** dalam pengerjaan komik.
Tone hancur itu bukan berarti "programnya" tidak terbaca oleh mesin cetak, tapi karena ketidaktepatan penggunaan program itu sendiri. Toh hasil akhir dari kedua teknik ini sama2 dalam bentuk format bitmap TIFF (flat?).
Yang membuat tone hancur itu adalah efek 'moir' yang menjadikan tone membentuk pola (kotak2, lingkaran, atau batik). Gw punya beberapa tips supaya efek ini tidak terjadi saat meng-apply tone pada komik.
1. Selalu buat file dalam skala 1:1, karena pola tone akan hancur jika file dibuat dalam 1,5 - 2 kali ukuran cetak kemudian dikecilkan.
2. Jangan memutar tone selain kelipatan 90 derajat. Pola tone akan hancur karena mesin cetak ngga bisa 'ngejar' titik2 yang ada jika kemiringan tone yang tidak tegak lurus. Ini menjelaskan maksud "mesin cetak tidak bisa membaca program", masalah sebenarnya adalah "mesin cetak tidak bisa mengikuti pola tone dengan sudut kemiringan tertentu" (misal tonenya diputar 45 derajat bukannya 90 atau 180 derajat).
3. Menumpuk tone harus dengan tone yang punya kerapatan dot yang sama. Untuk pengguna tone digital mungkin mengerti maksud ini. Biasanya tone dengan kerapatan dot yang sama dijejer bersebelahan, yang membuat tone lebih gelap adalah diameter dot tonenya yang membesar. Tone yang akan ditumpuk jangan digeser2 atau diputar2 supaya titik2nya bisa rapat dengan sempurna.
4. Untuk kasus yang sama, bagian yang ingin tonenya lebih gelap tapi ingin menggunakan jenis kerapatan tone yang berbeda, lebih baik hilangkan tone di bagian yang ingin digelapkan, baru bisa meng-apply tone yang lebih gelap.
5. Jangan sekali2 menumpuk tone bergradasi, karena tone jenis ini punya kerapatan dot yang berbeda yang tidak akan pernah bisa menyatu dengan sempurna dengan tone manapun tanpa menimbulkan efek moir.
6. Tone dengan efek "pasir" jarang menimbulkan moir. Tone jenis ini bisa ditumpuk dengan tone bergradasi biasa (atau tone biasa dengan tone pasir bergradasi), tapi bagaimanapun juga, moir bisa saja terjadi karena penumpukan yang tidak tepat. Jadi sebenarnya saya tetap tidak menyarankan menumpuk tone bergradasi.
Begitulah pengalaman saya dengan tone digital yang sebenar2nya. Tips ini bisa meminimalisir bahkan menghilangkan efek moir saat komik dicetak.
Semoga berguna.
Devious Comments
anyway, ini soal tone aja atau pengerjaan secara keseluruhan? (penintaan, teks juga?)
(No comment coz tone made me dizzy), thanks for the tips ^^
--
My DA Gallery: [link]
My CGSociety Portfolio: [link]
Commission: [link]
but thanks for the tips... :
tumben pake bahasa Indonesia. Meuni dibela2in
*kabur sebelum disuruh makan beling*
--
avatar credit belongs to ~mpunk-sign
Tone manual? wahh, bayaran buat komiknya aja ga mencukupi buta modal tonenya wkkwwk
--
---------------------------------
Art at your service! [link]
DA Bucky O Hare Club![link]
Fun with Raccoons! [link]
dia gengsi untuk membuktikan bayou-san benar..
ditambah dengan komen2 mendukung kak bayou..
aku juga pernah, guru salah teori, aku membenarkan,, tp guru itu keras kepala.. bgitu dihadapkan dengan guru yg lbh senior, baru mau nerima..
--
check out my friend's gall! [link]
join a-m-u!! ~A-M-U! aliansi mouse user!
watch this ~cyber-kare
teori n realitas itu sudah beda kenyataannya, kl bole liat fakta di pasaran, bakal g jabar klient2 g yg bole kate luar nagrek smua n mrk appreciate digital painting sama atau bahkan lebi dr manual painting. sakit ate g dibilang artist digital pemales n sok teplok, kita digital artist jg setengah mate kerja bikin artwork dngn beragam teknik yg harus dipelajari bertahun2 lama2nya.jangan asbun kl lom tau bagaimana cara kerjanya yah,editor e-e~
--
you know? orang itu gak punya "tangan".. yup.. dia gambar pake mulut n itu digital lg.. bahkan orang cacat pun masih bisa berkreasi maksimal dgn digital sebagai alat bantu "perpanjangan tangan" seperti kata jul td.
for godsake leave theperson behind and her own world. biar nyaho dia
--
I can't draw WELL..
I just LOVE it..
► Order GUNNHILDR!
► Opening COMMISSION!
=mazjojo
setuju bgt sm bayou, tembok tiap orang beda2. kalo cuma terus2an ngurusin mana yg lebih bagus, digital ato manual, ya gimana mau berkembang. sy ga bilang yg penting hasil akhirnya jg sih, proses juga penting sebenernya, tapi ga seharusnya proses itu dijadiin standar buat nentuin bagus nggaknya, karena toh akhirnya yg dibaca sm pembaca adalah komiknya kan, bukan gimana si komikus bikin komik itu.
menurut hemat saya (ahaha, jadul abis ga sih bahasnya) yg gitu2 ga usah dipermasalahin lah. kalo emg lebih suka cara manual ya udah gunakan cara itu, ga perlu sinis sm yg lebih suka cara digital, blg ga mau kerja keras ato apalah itu. yg digital juga sama, ga perlu sinis sm yg lebih suka cara manual, blg ga mau ikut perkembangan zaman dll dsb. jalan masing2 aja dengan caranya masing2. toh tujuan akhirnya sama kan, mau memajukan perkomikan indonesia.
--
hug someone. it makes them feel better.
thanks for the info,senpai.
iya sih,saya setuju...
saya sendiri juga pengguna kedua style manual dan digital. Menurutku keduanya sama saja^^ tergantung style tiap artis dan style tidak bisa dipaksakan.
--
Imagination into Reality !
Previous Page12345...Next Page